Sunday, April 8, 2007

Leadership Role

Tahun 2005, Stephen R. Covey menambah karakter ke delapan sebagai dimensi baru dalam mewujudkan pemahaman mengenai pribadi yang utuh. Karakter kedelapan memberi pola pikir dan perangkat keahlian untuk secara terus menerus menggali potensi yang ada di dalam diri manusia melalui semua peran dalam 4 Peran Kepemimpinan :

Pertama, Panutan atau menyajikan keteladanan (individu, tim). Menjadi panutan mengilhami timbulnya kepercayaan tanpa memintanya. Jika orang hidup dengan prinsip-prinsip yang diwujudkan dalam karakter ke-8, kepercayaan, pengikat kehidupan ini, akan tumbuh dengan subur. Kepercayaan akan muncul kalau kita memang layak dipercaya. Secara singkat, mejadi panutan menghasilkan kewibawaan moral pribadi.

Kedua, Perintis. Merintis jalan menciptakan keteraturan tanpa perlu memaksakannya. Hal ini berarti bahwa jika orang mengaitkan identitas mereka dan terlibat dalam pembuata keputusan-keputusan strategis, khususnya mengenai nilai-nilai yang dipegang serta tujuan-tujuan prioritas tertinggi, mereka akan mengalami keterkaitan emosional. Manajemen dan motivasi merupakan urusan di dalam diri. Orang tidak perlu lagi diatur-atur dan dimotivasi dari luar. Merintis jalan menghasilkan kewibawaan moral visioner.

Ketiga, Penyelaras. Menyelaraskan struktur, sistem, dan proses merupakan perwujudan dari upaya untuk memupuk organisasi dan semangat kepercayaan, visi, dan pemberdayaan. Menyeleraskan menghasilkan kewibawaan moral yang dilembagakan.

Keempat, Pemberdaya. Memberdayakan adalah buah dari ketiga peran yang lain – menjadi panutan, merintis jalan, dan menyelaraskan. Peran ini membebaskan potensi manusia tanpa memerlukan motivasi eksternal. Memberdayakan akan menghasilkan kewibawaan moral budaya.

Tuesday, March 20, 2007

IFA Model

Direktur Enterprise & Wholesale, Arief Yahya, menjelaskan makna working spirit Commited 2U yang juga berarti always the best – selalu menjadi nomor 1”. Dalam penerapannya, ditetapkan jurus yang diberi nama IFA Model, yaitu Imagine, Focus dan Action:

IFA Model:
Imagine --> Desirability & Start from the End
Focus --> Priority & Resource Allocation
Action --> Execution & Control

Imagine merupakan proses dalam menciptakan mental image (impian/ cita-cita/ visi) dan idea. Jurus imagine akan memacu diri memiliki desirability/ motivasi untuk mencapai mental image yang diyakini. Selain itu untuk dapat merealisasikannya diperlukan kekuatan berfikir dan bertindak memulai dari akhir (Start from the End). Toni Buzan, pencipta Mind Mapping®, menyampaikan hal yang sama, dimana salah satu ciri dari Sales Genius adalah memiliki sebuah visi penjualan puncak. Ia percaya bahwa merencanakan impian dan cita-cita, menuliskannya dengan terperinci bagaimana akan mencapainya dan membayangkannya adalah hal-hal penting bagi sebuah keberhasilan. Tanpa visi penjualan puncak, otak tidak akan memiliki sesuatu yang akan dibidik, padahal otak merupakan sebuah mekanisme pengendali keberhasilan dan akan terus berusaha meraih pencapaian apa pun yang telah ditetapkan.

Jurus kedua IFA model adalah Focus. Arti harfiah focus adalah melakukan konsentrasi kepada satu perhatian (to concentrate one's attention). Dengan demikian, agar tidak salah dalam memusatkan perhatian, perlu dilakukan prioritas dan differensiasi. Semua pemimpin besar selalu memiliki prioritas dan differensiasi dalam melaksanakan program dan menyelesaikan masalah. Pemimpin yang meraih keberhasilan menginvestasikannya di tempat yang memberikan penghasilan paling tinggi, dan mengurangi kerugian di tempat lain. Memusatkan perhatian juga berarti mengalokasikan sumber daya sesuai dengan prioritasnya (Resource Allocation). Jack Welch dalam bukunya Winning, menyatakan bahwa differensiasi merupakan cara untuk mengelola manusia dan bisnis dengan mengalikasikan sumber daya (differentiation is a way to manage people and businesses by allocating resources).

Jurus terakhir IFA model adalah Action. Hal ini tidak terbantahkan, bahwa imagine dan focus saja tidak akan berbuat banyak tanpa direalisasikan dengan aksi yang baik. Action adalah berarti bagaimana menjalankannya (how to execute) dan bagaimana meyakinkan berjalan dengan baik (how to ensure the execution well done). Maka untuk itu dibutuhkan media controlling yang tepat untuk memantau progress execution. Dengan demikian setiap action harus dilengkapi dengan Standard Operating Procedure (SOP) yang tepat.

Thursday, March 8, 2007

Karakter Pembangun Kemenangan

Tujuh karakter pembangun kemenangan di Enterprise Market dijabarkan dari 7 Kebiasaan Manusia yang Sangat Efektif (7 habits of Highly Effective People) yang ditulis oleh Stephen R. Covey. Tujuh Kebiasaan Manusia yang Sangat Eefektif merupakan esensi perwujudan dari upaya kita untuk menjadi seseorang yang seimbang, utuh, dan kuat, serta menciptakan sebuah tim yang saling melengkapi berdasarkan rasa saling menghormati. Hal ini adalah merupakan prinsip-prinsip dari karakter pribadi.

Character 1 - Proactive

Menjadi proaktif adalah sesuatu yang lebih dari sekedar mengambil inisiatif. Proaktif berarti menyadari bahwa kita bertanggung jawab terhadap pilihan-pilihan kita dan memiliki kebebasan untuk memilih berdasarkan prinsip dan nilai, dan bukan berdasarkan suasana hati atau kondisi di sekitar kita. Orang-orang yang proaktif adalah agen-agen perubahan, dan memilih untuk tidak menjadi korban, untuk tidak menjadi reaktif; mereka memilih untuk tidak menyalahkan orang lain.

Character 2 – Start from the End

Individu, keluarga, tim dan organisasi membentuk masa depan mereka dengan terlebih dahulu menciptakan sebuah visi mental untuk segala proyek, baik besar maupun kecil, pribadi atau antarpribadi. Mereka tidak sekedar hidup dari hari ke hari tanpa tujuan yang jelas dalam pikiran mereka. Mereka mengidentifikasi diri dan memberikan komitmen terhadap prinsip, hubungan, dan tujuan yang paling berarti bagi mereka.

Character 3 – Put First thing first

Mendahulukan yang utama berarti mengatur aktivitas dan melaksanakannya berdasarkan prioritas-prioritas yang paling penting. Apa pun situasinya, hal itu berarti menjalani kehidupan dengan didasarkan pada prinsip-prinsip yang dirasakan paling berharga, bukan oleh agenda dan kekuatan sekitar yang mendesak saja.

Character 4 – Think Win Win

Berpikir menang-menang adalah kerangka pikiran dan hati yang berusaha mencari manfaat bersama dan saling menghormati di dalam segala jenis interaksi. Berpikir menang-menang adalah berpikir dengan dasar-dasar Mentalitas Berkelimpahan yang melihat banyak peluang, dan bukan berpikir dengan Mentalitas Berkekurangan dan persaingan yang saling mematikan. Karakter ini bukanlah berpikir secara egois (menang-kalah) atau seperti martir (kalah-menang). Karakter ini adalah berpikir dengan mengacu kepada kepentingan “kita”, bukan “aku”.

Character 5 – Effective Communication

Effective Communication yang dimaksud adalah berkomunikasi dengan empathy; berusaha memahami dulu, baru kemudian berusaha dipahami. Jika kita mendengar dengan maksud untuk memahami orang lain, dan bukan sekedar untuk mencai celah untuk menjawab, kita bisa memulai komunikasi dan pembentukan hubungan yang sejati. Peluang-peluang untuk berbicara secara terbuka dan untuk dipahami kemudian akan datang secara lebih alamiah dan mudah. Berusaha untuk memahami memerlukan pertimbangan matang; berusaha untuk dipahami memerlukan keberanian. Efektivitas terletak pada menyeimbangkan atau menggabungkan keduanya.

Character 6 – Synergy

Sinergi adalah alternatif ketiga – bukan cara saya, cara Anda, tetapi sebuah cara ketiga yang lebih baik daripada apa yang bisa kita capai sendiri-sendiri. Sinergi merupakan buah dari sikap menghormati, menghargai, dan bahkan merayakan adanya perbedaan di antara orang-orang. Sinergi bersangkut paut dengan upaya untuk memecahkan masalah, meraih peluang dan menyelesaikan perbedaan. Ini seperti kerja sama kreatif di mana 1 + 1 = 3, 11, 111, … atau lebih banyak lagi. Sinergi juga merupakan kunci keberhasilan dari tim atau hubungan efektif mana pun. Sebuah tim yang bersinergi adalah sebuah tim yang saling melengkapi, di mana tim itu diatur sedemikian rupa sehingga kekuatan dari para anggotanya bisa saling menutupi kelemahan-kelemahannya. Dengan cara ini kita mengoptimalkan kekuatan, bekerja dengan kekuatan tersebut, dan membuat kelemahan dari masing-masing orang menjadi tidak relevan.

Character 7 – Sharpen the Saw

Mengasah gergaji berkenaan dengan upaya kita untuk memperbarui diri secara terus-menerus pada empat bidang dasar kehidupan: fisik, sosial/emosional, mental, dan spiritual. Ini adalah karakter yang meningkatkan kapasitas kita untuk menjalankan semua kebiasaan lain yang akan meningkatkan efektivitas kita.